Ini Alasan Kades Rejowinangun Memintai Foto KTP Pesulap Merah

BLITAR, iNewsBlitar - Kepala Desa Rejowinangun, Bagas Wigasto memintai foto KTP pada pesulap merah (Marcel Radhival) saat akan melakukan pembuktian di Padepokan Nur Dzat Sejati Minggu lalu. Ini Ia lakukan untuk mengantisipasi adanya keributan yang melibatkan dua orang menggunakan atribut salah satu ormas.
"Awalnya saya mantau saja dari kantor lewat tayangan Instagram, lama kelamaan kok rame. Karena ini di wilayah saya, maka saya memintai KTP Pesulap Merah untuk mengantisipasi adanya polemik di akhir peristiwa," ungkap Bagas di kantornya, Sabtu (30/07/2022).
Bagas menjelaskan, bahwa ada potensi keributan antara kedua kubu. Bahkan saat Ia datang ke lokasi ada dua orang yang menggunakan pakaian ormas yang sama justru bertikai.
Ia mengantisipasi adanya pertikaian pasca pesulap merah meninggalkan Desa Rejowinangun. Sebab ini melibatkan ormas yang besar di Indonesia.
"Mungkin Pesulap Merah tidak mempertimbangkan bahwa kalau ada potensi keributan pasca Pesulap Merah kembali ke Jakarta," tegasnya.
Lebih lanjut, Ia menjelaskan ada orang yang mengikuti pesulap merah yang menggunakan atribut ormas bahkan beberapa kali orang tersebut meminta bantuan dari luar. Sementara Padepokan juga mendapatkan dukungan keamanan dari orang yang menggunakan atribut ormas yang sama.
Ada sejumlah orang dari dalam padepokan yang juga sempat terpancing. "Karena itulah kami tarik ke selatan, untuk menjauhi padepokan yang ada di utara guna menghindari keributan," ungkapnya.
Untuk dari orang yang menggunakan pakaian ormas dari pihak Pesulap Merah diketahui warga dari Kabupaten Tulungagung. Sementara orang yang menggunakan pakaian ormas dari pihak Padepokan Nur Dzat Sejati diketahui dari Kabupaten Malang.
"Saya tidak menyandra orang dari pihak Pesulap Merah, tapi saya mintai keterangan, kenapa menggunakan pakaian ormas ini, baik dari pihak Pesulap Merah maupun dari Padepokan juga kami mintai keterangan. Supaya clear tidak ada gesekan di dalam ormas ini. Kini orang dari kedua belah pihak diminta untuk kembali ke daerah masing-masing," terangnya.
Ia menegaskan, bahwa kedua orang yang menggunakan pakaian ormas ini tidak memiliki surat tugas dari daerah masing-masing, sehingga sesuai kesepakatan mereka melepas pakaian ormasnya.
Editor : Robby Ridwan