Kisah Tragis Ki Ageng Ngaliman Nganjuk, Putra Sunan Giri yang Dihukum Mati

Arif
Kisah Tragis Ki Ageng Ngaliman Nganjuk, Putra Sunan Giri yang Dihukum Mati. Foto ilustrasi Sunan Giri. (foto/wikipedia)

KEDIRI,iNewsBlitarAliman atau Ki Ageng Ngaliman merupakan salah satu putra Sunan Giri Prabu Satmata yang dibuang ke sebuah bukit di sebelah utara Gunung Wilis yang kini masuk wilayah Kabupaten Nganjuk Jawa Timur.

Pembuangan Aliman merupakan hukuman atas tabiatnya yang kurang ajar, yakni terutama serangannya terhadap ajaran syariat Islam yang dikenalkan Sunan Giri.

“Dia mengejek pengetahuan santri, meremehkan ilmu para mutakalim,” demikian dikutip dari buku Kisah Brang Wetan Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan (2021).

Sunan Giri yang bernama kecil Raden Paku merupakan putra Syaikh Maulana Ishak. Sebagaimana Sunan Ampel, mertuanya, Sunan Giri mengembangkan Islam melalui jalur kekuasaan dan perniagaan.

Dalam buku Atlas Wali Songo (2016) disebutkan, salah satu bidang dakwah yang digarap Sunan Giri adalah pendidikan, yakni mengembangkan sistem pesantren.

Kemudian juga bidang politik dan kebudayaan yang itu tak lepas dari kebijaksanaan wali lainnya. Gelar Prabu Satmata, yakni salah satu nama Dewa Siwa yang diberikan kepada Sunan Giri adalah merujuk pada kekuasaan politik yang dimiliki.

Catatan Literature of Java (1967-1980) Th.H.Th. Pigeaud menyebut, pada tahun 1485 Masehi, Sunan Giri membangun kedhaton di puncak bukit yang kemudian dikenal bernama Giri Kedhaton.  

Sementara polah tingkah Aliman, sang anak secara tidak langsung telah menggerogoti ajaran Islam. Aliman tidak henti-henti mencemooh pengetahuan para santri.

Ilmu para orang-orang alim (mutakalim) terus direndahkannya dan itu membuat keresahan di mana-mana. “Karena tindakan itu dapat merusak agama Islam dan dapat mengakibatkan masjid pondok sepi”.

Ulah Aliman tidak bisa dibiarkan dan ia pun diputuskan dibuang ke sebuah bukit yang kelak dikenal dengan nama Gunung Liman yang letaknya bersebelahan dengan Gunung Wilis.

Di tempat barunya Aliman mengangkat diri sebagai Ki Ageng dan dikenal dengan nama Ki Ageng Ngaliman atau Ngliman. Ia mengajar ilmu kanuragan dan kedigdayaan kepada orang-orang Jawa yang ikut bertempat tinggal di sana.

Padepokan Ki Ageng Ngaliman dalam waktu singkat kesohor. Muridnya terus bertambah dan semakin banyak.

Padepokan Ki Ageng Ngaliman berada di Kabupaten Berbeg. Pada masa kekuasaan Mataram Islam terdapat empat kabupaten, yakni Berbeg, Kertosono, Nganjuk dan Godean.

Pasca perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830), di bawah gubernemen kolonial Belanda, empat kabupaten disatukan di bawah Kabupaten Berbeg dan dalam perjalanannya pindah ke Nganjuk.  

Sementara karena banyak pengikut dan merasa memiliki kekuasaan sendiri, Ki Ageng Ngaliman memperlihatkan sikap menantang Mataram. Dalam sekejap Ki Ageng Ngaliman dianggap sebagai tokoh yang membahayakan kekuasaan.

Kisah Brang Wetan Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan menceritakan, ia kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. “Dia tertangkap dan dibawa ke Solo dan (kemudian) dihukum mati”.

Tamat sudah riwayat Aliman atau Ki Ageng Ngaliman pemimpin padepokan Gunung Liman Nganjuk yang dikenal sebagai putra Sunan Giri.

Editor : Solichan Arif

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network