Kisah Moersjid, Jenderal Pemarah yang Bikin Soekarno Keder

Arif
.
Selasa, 20 September 2022 | 10:15 WIB
foto: ilustrasi

JAKARTA,iNewsBlitarMoersjid, merupakan salah satu sosok jenderal berwatak temperamental. Moersjid terkenal sebagai jenderal pemarah, yang itu membuat Soekarno atau Bung Karno segan dengannya.  

Paska tragedi G30S,  Mayor Jenderal Moersjid secara struktural merupakan pengganti Menteri/Panglima AD (Menpangad) Letjen TNI Ahmad Yani.

Namun Presiden Soekarno tidak menyetujui itu lantaran Moersjid dianggap sosok yang pemarah. Lalu siapa sebenarnya Moersjid?.

Mayor Jenderal Moersjid merupakan perwira tinggi TNI AD yang lahir di Jakarta 10 Desember 1924. Sumber lain menyebut Moersjid lahir pada 1925.

Ayahnya, Alip Kartodarmodjo merupakan warga Bagelen, Jawa Tengah, sedangkan ibunya, Djawahir adalah waga asli Betawi. Sosok Moersjid menjulang. Tinggi tubuhnya 185 cm dengan berat 120 kg.

Moersjid mengawali karir militernya sebagai tentara PETA. Di Bogor ia berpangkat shodanco atau setara komandan peleton. Saat revolusi fisik, Moersjid pernah mengawal rombongan rakyat sipil dari Jawa Barat menuju Blitar, Jawa Timur.

Di sanalah ia bertemu pujaan hatinya. Seorang gadis asal Banten bernama Siti Rachma yang tak lama kemudian ia nikahi. Paska Indonesia merdeka karir  Moersjid melesat.

Ia berhasil menjadi komandan resimen Divisi Siliwangi. Namanya semakin melejit saat ia kerap bekerja sama dengan Ahmad Yani.

Keduanya pernah turun tangan bersama memadamkan perlawanan di daerah yang bergejolak. Kemudian melakukan operasi militer untuk melumpuhkan para pemberontak.

Saat bertugas Mayor Jenderal Moersjid memiliki kebiasaan merancang strategi sekaligus menyusun rencana operasi dengan menganalisis topografi.

Hal ini membuatnya kerap bersinggungan dengan peta-peta, bahkan tidur dengan menggumuli peta. Kebiasaan itu terus ia lakukan hingga Mayor Jenderal Moersjid pensiun.

Jenderal pemarah ini begitu disegani Bung Karno. Terutama karena ia merupakan salah satu jenderal yang memiliki loyalitas tinggi terhadap bangsa dan negara.

Editor : Solichan Arif
Bagikan Artikel Ini